sumber: dokumentasi panitia pelaksana kegiatan
Jepara – Generasi Banking Squad (Gen B Squad) kembali
menyelenggarakan workshop public speaking bagi mahasiswa, Rabu (1/7/2026),
bertempat di Ruang 2F Fakultas Syariah dan Hukum. Kegiatan ini merupakan bagian
kedua dari rangkaian program yang dirancang untuk mengasah kemampuan mahasiswa
dalam berbicara di depan umum, khususnya dalam bahasa Inggris yang dinilai
penting mengingat statusnya sebagai bahasa internasional.
Workshop part kedua ini mengusung tema Speech
Techniques, yang secara khusus membahas teknik-teknik dalam berpidato.
Materi disampaikan oleh Dr. Haryanto, M.Pd.I., M.Hum., yang juga menjadi
pemateri pada workshop bagian pertama, Jumat (29/5/2026) lalu, yang saat itu
mengupas dasar-dasar public speaking.
Berbeda dari sesi sebelumnya, workshop kali ini
turut menghadirkan tamu spesial, Jibran Jauhari Jiwani, Duta Genre Kabupaten
Jepara 2025, yang turut memberikan warna baru dalam diskusi seputar teknik
berkomunikasi di depan publik.
Materi: Dari Pengertian hingga
Etika Berpidato
Dalam paparannya, Dr. Haryanto membuka sesi dengan
menjelaskan pengertian pidato secara komprehensif, yakni sebagai penyampaian
pikiran secara lisan di depan umum, alat komunikasi antara pembicara dan
pendengar, sekaligus sebuah seni mengungkapkan gagasan secara efektif.
Ia kemudian memaparkan fungsi pidato dalam konteks
organisasi, yang mencakup tiga peran utama: sebagai sarana komunikasi hierarkis
antara atasan dan bawahan, media penyampaian informasi seperti kebijakan dan
pengumuman penting, serta sebagai jembatan untuk menjalin hubungan baik dan
mempererat koordinasi antarindividu maupun unit kerja.
Empat tujuan pidato turut dijelaskan secara rinci,
yaitu instruktif (memberi perintah atau arahan tindakan), informatif
(menyampaikan fakta dan pengetahuan baru), persuasif (memengaruhi emosi dan
keyakinan audiens), serta rekreatif (memberikan hiburan dan suasana rileks
melalui narasi atau humor).
Materi berlanjut pada pembahasan macam-macam
pidato, yang dikelompokkan menjadi enam jenis: pidato pembukaan, pidato
pengarahan, pidato sambutan, pidato peresmian, pidato laporan, dan pidato
pertanggungjawaban. Masing-masing jenis dijelaskan lengkap dengan konteks
penggunaannya, misalnya pidato peresmian yang lazim disampaikan tokoh
berpengaruh saat meresmikan gedung atau fasilitas umum, hingga pidato
pertanggungjawaban yang berfungsi sebagai bentuk akuntabilitas formal atas
tugas yang telah dilaksanakan.
Dr. Haryanto juga menekankan tiga unsur kemampuan
berpidato yang harus dikuasai peserta, yakni penguasaan materi (logika),
penggunaan bahasa yang tepat sesuai struktur, serta gaya penyampaian
(retorika). Menurutnya, sinergi ketiga unsur tersebut yang akan menciptakan
dampak komunikasi yang kuat bagi pendengar.
Persiapan dan Teknik Penyampaian
Pidato
Sesi selanjutnya membahas langkah-langkah persiapan
sebelum berpidato, mulai dari mengenali profil hadirin, menentukan tema dan
durasi yang sesuai, hingga memahami kondisi lokasi dan fasilitas seperti tata
suara, pencahayaan, dan posisi podium. Peserta juga diberi panduan menyusun
naskah pidato melalui tiga tahap, yaitu menentukan pokok pikiran utama,
menyusun kerangka (pembukaan, isi, dan penutup), lalu mengembangkannya menjadi
naskah utuh dengan alur logika yang kuat.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta
adalah pemaparan mengenai empat teknik penyampaian pidato, yakni:
- Metode
Impromptu –
penyampaian spontan tanpa persiapan naskah, sangat bergantung pada
pengalaman pembicara.
- Metode
Menghafal (Memoriter) – naskah ditulis lengkap kemudian dihafalkan
kata demi kata.
- Metode
Naskah (Manuscript) – membaca teks yang telah disiapkan, umumnya
digunakan dalam pidato resmi kenegaraan.
- Metode
Ekstemporan –
menggunakan kerangka atau catatan poin utama sehingga pembicara tetap
fleksibel dan dapat menjaga kontak mata dengan audiens.
Dr. Haryanto turut menyoroti pentingnya vokal dan
intonasi, mulai dari pengaturan volume hingga kejelasan artikulasi, agar penyampaian
pidato tidak monoton dan mampu menekankan poin-poin penting. Kontak mata dan
bahasa tubuh yang terbuka juga disebut sebagai kunci membangun koneksi dengan
audiens serta memancarkan rasa percaya diri.
Sebagai penutup materi, dijelaskan pula etika berpidato
yang wajib diperhatikan, di antaranya menggunakan sapaan yang tepat sesuai
konteks audiens, menghindari kata-kata yang menyinggung atau bermuatan SARA,
serta bersikap rendah hati tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Sesi Praktik: Ciri Khas Workshop
Dr. Haryanto
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan
dengan sesi praktik yang menjadi ciri khas metode mengajar Dr. Haryanto.
Peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan diberi waktu berdiskusi untuk
menyusun naskah pidato secara bersama-sama.
Setiap kelompok kemudian diminta menyampaikan
pidato hasil susunan mereka secara bergantian, baik dalam bahasa Inggris maupun
bahasa Indonesia, di hadapan peserta lain serta pemateri. Sesi praktik ini
menjadi rangkaian penutup sekaligus puncak dari keseluruhan workshop, di mana
peserta langsung mengaplikasikan teknik-teknik yang telah dipelajari, mulai
dari penguasaan materi, intonasi, hingga kontak mata dengan audiens.
Kolaborasi dengan Duta Genre
Jepara
Kehadiran Jibran Jauhari Jiwani selaku Duta Genre
Kabupaten Jepara 2025 menjadi nilai tambah tersendiri dalam workshop kali ini.
Sebagai figur yang aktif di bidang komunikasi publik, kehadirannya diharapkan
dapat memberikan perspektif dan motivasi tambahan bagi mahasiswa dalam
mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum.
Melalui workshop berkelanjutan ini, Gen B Squad
berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori seputar public speaking, tetapi
juga mampu mempraktikkannya secara langsung, baik dalam forum formal maupun
kegiatan sehari-hari, sebagai bekal penting menghadapi dunia kerja dan
interaksi global di masa depan.
Penulis: Rinzani Zaliyanti
Editor: Amalia Stevani
0 Comments