Seminar Internasional Islamic Finance Bahas Risiko Geopolitik dan Ketahanan Keuangan, Resmi Buka Festival Syariah ke-9


Seminar Internasional bertema “Islamic Finance, Geopolitical Risk dan Financial Resilience: Evidence from OIC and ASEAN Markets” sukses diselenggarakan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UNISNU Jepara pada Senin, 6 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Gedung Pascasarjana dan menjadi pembuka rangkaian Festival Syariah ke-9. Acara tersebut dihadiri oleh civitas akademika, praktisi perbankan, serta perwakilan pelajar dari berbagai sekolah di Jepara yang antusias mengikuti jalannya seminar.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor UNISNU Jepara, Dr. Miftah Arifin, dengan cara yang unik dan sarat makna budaya, yakni membunyikan alat musik tradisional angklung. Pembukaan ini menjadi simbol harmoni antara nilai tradisional dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam bidang keuangan syariah dan ekonomi global.

Selanjutnya, keynote speech disampaikan oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Dr. Wahidullah. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya kebijakan ketahanan keuangan syariah dalam menghadapi risiko geopolitik global pada periode 2024–2025. Ia menjelaskan bahwa dinamika konflik global, perubahan kebijakan ekonomi, serta ketidakpastian pasar internasional menuntut sistem keuangan syariah untuk lebih adaptif, resilien, dan berbasis prinsip kehati-hatian.

Sesi materi kemudian diisi oleh para narasumber internasional dan praktisi. Odilov Akmaljon memaparkan tentang geopolitical risk dan financial resilience dalam konteks global dan kawasan Asia Tengah. Ia menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik dapat memengaruhi arus perdagangan, investasi, serta stabilitas keuangan, sekaligus menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi dan penguatan institusi keuangan.

Sumber: Dokumentasi Panitia 

Materi serupa juga disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Tubagus Achmad Darodjat dan Prof. Dr. Fauzillah binti Saleh yang membahas perspektif kawasan ASEAN, khususnya Malaysia dan Thailand. Keduanya menekankan bahwa negara-negara ASEAN memiliki peluang besar dalam memperkuat ketahanan keuangan melalui integrasi ekonomi, peningkatan investasi asing, serta pengembangan sektor digital dan industri halal.

Sementara itu, perspektif sektor perbankan disampaikan oleh M. Nahdudin Masykur yang mengulas keterkaitan antara *Islamic finance*, risiko geopolitik, dan ketahanan keuangan dalam praktik perbankan syariah. Ia menegaskan bahwa perbankan syariah harus mampu mengelola risiko global dengan strategi yang inovatif dan berbasis prinsip syariah. Seminar ini diharapkan dapat memberikan wawasan komprehensif serta mendorong kolaborasi akademisi dan praktisi dalam menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.


Penulis: Uswatun Khasanah

Editor: Rinzani Zaliyanti

0 Comments