Sejarah LPM Bursa

Masa kalatida telah menyelimuti INISNU khususnya Fakultas Hukum Islam (Syari’ah), gerakan dan kegiatan intelektual beraroma ilmiah telah tenggelam dalam samundera mimpi tidur panjang tak terbangunkan. Aktivitas ilmiah mahasiswa hanya dijadikan sebagai syarat untuk menunaikan tugas dosen atau hanya sekedar untuk memperoleh gelar Strata 1. Sungguh kenaifan dan ironi tak terbantahkan, dunia kampus yang seharusnya menjadi laboratorium mahasiswa untuk melakukan riset-riset ilmiah hanya menjadi tempat berlabuh mengisi waktu luang atau hanya untuk sekedar mencari teman. Kerinduan untuk menciptakan kampus sebagai pusat pengembangan intelektual dan kegiatan ilmiah masih menjadi angan. Tanpa gerakan radikal sebagai upaya mewujudkan angan tersebut nampaknya akan sulit terlaksana.
Sebuah komunitas kecil yang merasa prihatin dengan kondisi memilukan tersebut, mencoba melakukan sedikit gerakan radikal untuk membangunkan tidur panjang tak bermimpi itu. Sejarah baru tertoreh pada tahun 2000 dengan munculnya media pers yang diterbitkan oleh pejabat struktural di Senat Mahasiswa Fakultas (sekarang BEM Fakultas), sebuah organisasi kemahasiswaan intra kampus tertinggi di fakultas syari’ah. Tercacat dalam lembaran sejarah beberapa nama diantaranya adalah Mayadina RM yang menjadi Pemimpin Redaksi pertama, Rifa’i AM, Andi Rahman, Jazuli Aha, Rif’an, Ali Chafidz, Amirudin Sujatmiko, Wahidullah, Umi Sa’adah dan beberapa mahasiswa lainnya. Media tersebut diberi nama BURSA atau “Buletin Radar Syari’ah”. Seperti halnya orang-orang melayu, dalam memberikan nama selalu tersimpan maksud dan cita-cita agung dengan harapan akan terwujud suatu saat nanti. Tidak tekecuali pada pilihan BURSA atau Buletin Radar Syari’ah sebagai nama buletin mahasiswa Fakultas Syari’ah INISNU Jepara. Oleh para founding fathers-nya, buletin tersebut diharapkan menjadi radar yang menyebarkan sinyal-sinyal keilmuan ke seantero kampus, sinyal yang mampu menembus dinding-dinding penjara kesadaran mahasiswa akan fungsi dan tanggung jawabnya yang telah lama terbelenggu. Mahasiswa dengan segala kelebihan yang dimiliki diharapkan dapat menerima sinyal tersebut dengan baik sehingga transformasi ilmu dapat diakselerasikan.
“Media Pergulatan Intelektual Mahasiswa”, redaksi singkat tersebut menjadi jargon buletin kebanggaan “santri” Fakultas Hukum Islam itu. Kalimat itu menjadi sugesti dan motivasi tersendiri bagi redaksi untuk terus berkarya tanpa henti. Keterbatasan yang ada tidak pernah memadamkan api semangat tim redakasi yang telah lama menyala. Bahkan segala keterbatasan yang ada menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi redakasi untuk berkreasi dan berinisiasi menutupi atau bahkan mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Keterbasan-keterbatasan tersebut diantaranya adalah masalah dana, sumber daya (perangkat keras), kuantitas tim, dan lain sebagainya.
Media sederhana yang diterbitkan tersebut telah mampu mendenyutkan jantung intelektual dan ilmiah yang telah lama koma. Detak jantung keilmuan terutama dalam bidang tulis menulis semakin kencang ketika Buletin Bursa mampu terbit beberapa edisi. Lembaran-lembaran buletin yang diterbitkan menjadi media transformasi gagasan yang cukup ampuh. Kesederhanaan performa media yang diterbitkan tidak memudarkan kualitas dan keilmiahan isi. Justru hal itu menjadi keunikan dan bukti kedahsyatan karena mampu bertahan dalam segala keterbatasan yang mendera. Dalam catatan sejarah penerbitan, media tersebut telah mampu terbit beberapa kali.
Kehebatan media transformator itu tak berlangsung lama, pergantian generasi dan side effect masa transisi pejabat struktural Senat Fakultas ditambah proses kaderisasi yang tidak massif membuat Buletin Bursa kolap. Edisi bursa tidak bertambah, tumpukan arsip administrasi dan dokumentasi penerbitan hanya menjadi sejarah masa lalu yang layak untuk dimusiumkan. Namun begitu, Buletin Bursa telah mampu mendapat apresiasi tersendiri dikalangan mahasiswa INISNU, khususnya mahasiswa Fakultas Syari’ah. Sampai bulan September 2001, Buletin Bursa mampu terbit untuk edisi yang ke 15 (lima belas), sebuah edisi yang cukup banyak untuk ukuran media terbitan mahasiswa pada waktu itu, bahkan sampai kini.
Tahun 2005, denyut bulletin bursa kembali berdetak setelah sekian lama menghilang dari konstelasi penerbitan media mahasiswa. Beberapa edisi diterbitkan sebagai bentuk “pembalasan” dan bukti eksistensi. Lamanya waktu
Sebagai Lembaga Pers Mahasiswa di INISNU, Bursa membawa beban berat untuk menunjukkan eksistensinya dengan terus berkarya. Tujuh tahun sudah Bursa hadir mewarnai dinamika pergulatan intelektual di INISNU Jepara berdampingan dengan insan-insan pers mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di INISNU. Alhamdulillah, diumurnya yang keempat yaitu pada tanggal 9 Juni tahun 2006, Bursa resmi menjadi UKK dengan diterbitkannya SK dari Dekan Fakultas Syari'ah dengan nomor 02.E./FS.INISNU/VI/S2006. Tidak berselang lama, dengan segala daya yang dimiliki akhirnya Pusat Nasional ISDS (International Serial Data System) untuk Indonesia yang berpusat di Paris, telah memberikan ISSN (International Standard Serial Number) kepada Majalah Bursa yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bursa Fakultas Syari'ah INISNU Jeparau dengan nomor 1978-7782. Apa yang telah didapatkan tersebut, tentunya teak terlepas dari dorongan dan semangat para pecinta dunia baca dan tulis (civitas akademika) INISNU semuanya. LPM Bursa sebagai organisasi yang concern dalam bidang penerbitan dan pemberitaan terus berupaya menerbitkan gagasan-gagasan mahasiswa yang termanifestasikan dalam karya-karya tulisan.
Pada dasarnya dunia pers merupakan cermin dari kehidupan sosial yang melingkupinya, tidak tekecuali pers mahasiswa dan kampus yang melingkupimya. Dengan demikian, Majalah Bursa yang ada ditangan pembaca saat ini merupakan cermin dari dinamika intelektual di kampus tercinta kita ini (INISNU). Terbitnya media pers mahasiswa, adalah bukti bahwa dunia pergulatan intelektual masih bernyawa, tentu dengan segala ketebatasannya.

0 Comments