TAHUN BARU ISLAM

 


Tahun baru Islam atau yang dikenal dengan tahun baru hijriyah diresmikan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Beliau menetapkan tahun baru hijriyah sebagai sistem penanggalan resmi Islam. Pada mulanya terdapat beberapa usulan mengenai awal penghitungan tahun baru hijriyah. Ada yang mengusulkan perhitungan dimulai dari hari kelahiran Rasulullah, ada yang mengusulkan dimulai kettika Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, da nada juga yang mengusulkan penghitungan dimulai dari wafatnya Rasulullah. Kemudian sahabat Ali bin Abi Thalib mengusulkan perhitungan tahun baru hijriyah dimulai dari HIjrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah (638M/17H) dan usulan tersebut yang akhirnya disepakati menjadi perhitungan awal tahun baru hijriyah. 

Peringatan tahun baru Islam kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana pada tahun-tahun sebelumnya peringatan tahun baru Islam diwarnai dengan penuh keramaian, misalnya dengan menggelar peringatan gebyar Muharram di alun-alun kota dan dilanjutkan dengan do’a akhir tahun dan awal tahun. Untuk tahun ini sementara ditiadakan terlebih dahulu. Menilik keadaan yang masih berada ditengah pandemi covid-19, sebagai umat muslim yang taat peraturan untuk sementara peringatan-peringatan besar yang melibatkan banyak masa untuk sementara dialihkan dengan peringatan yang sederhana demi kemaslahatan bersama. 

Untuk pelaksanaan do’a akhir tahun dan awal tahun tetap diadakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Karena seorang muslim dianjurkan untuk membaca doa akhir tahun dan awal tahun. Dengan memanjatkan do’a dalam mengakhiri tahun dan mengawali tahun diharapkan dosa-dosa yang dilakukan bisa mendapat ampunan dari Allah SWT. Dan juga mengharap keberkahan dan rezeki melimpah. Do’a akhir tahun dibaca setelah melaksanakan sholat ashar sebelum maghrib. Dan peembacaan doa awal tahun setelah melaksankan sholat maghrib.

Pada bulan Muharram juga terdapat beberapa kesunnahan yang dianjurkan untuk dilaksakan. Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja wa as-Surur fi Ud’iyyat Tasyrah as-Shudur menjelaskan sejumlah amalan yang bisa dilaksanakan (Republika, 4/9/2019). Amalan tersebut terangkum secara apik dalam syair berikut:

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْصُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْوَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ 

Artinya: “Ada 10 amalan dalam Muharam, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, sholatlah, sambung silaturahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, kemudian menambah nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat al-Ikhlas 1.000 kali."

Dan amalan sunnah yang dianjurkan adalah berpuasa. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
“Puasa yang paling utama setelah ramadhan ialah puasa di bulan Allah, Muharram.”
Memperbanyak puasa di bulan Muharram disunnahkan sebagai pembuka tahun baru. Memperbanyak amalan saleh di pembuka tahun baru sebagai bentuk awal yang baik untuk bulan selanjutnya agar selalu dalam kebaikan. Penyambutan tahun baru hijriyah sebagai bentuk introspeksi bagi diri sendiri apakah menjadi pribadi lebih baik dari tahun sebelumnya, atau justru sebaliknya. 

Comments

Popular posts from this blog

Lirik Lagu MARS UNISNU Jepara

Ketua Cabang PMII Respon Statement Ketua DPC GMNI Jepara soal Organisasi Eksternal Kampus

Resensi Novel Matahari diatas Gilli