Skip to main content

Refleksi Kemerdekan di Masa Pandemi

 


Dirgahayu negeriku. Dirgahayu bangsaku. Menjadi manusia adalah harus berusaha dengan sebaik-baiknya.

Merdeka dalam akar kata bahasa Arab  disebut juga “al-Istiqla” yang memiliki definisi “al-Tahrur wa al-Khalash min ayy Qaydin wa syatharah Ajnabiyyah” (bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain, atau Al Qudrah ‘ala al-Tanfidz ma’a In’idam Kulli Qasr wa ‘Unf min al-Kharj (Kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya). Kemerdekaan diartikan pula sebagai kebebasan. Sinonim dari kata al Hurriyyah yang bermakna kebebasan.

Kemerdekaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermaknakan keadaan berdiri sendiri (bebas), keadaan tidak terjajah lagi, dan sebagainya. Artinya kemerdekaan adalah suatu bentuk kebebasan diri atas objek lain. Kebebasan tersebut berupa kebebasan dalam pikiran, tindakan, maupun ucapan.

17 Agustus 1945 yang lalu, bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan. Seolah peristiwa itu masih terus tergiang. Ketika lebih dari sekian abad bangsa kita berada dalam kungkungan penjajahan. Tidak terhitung jutaan nyawa yang telah berguguran. Tak terhitung pula sekian episode peperangan yang terlewati dengan penuh penderitaan.

Kini, tujuh puluh lima tahun itu telah kita lewatkan. Di mana kemerdekaan telah terwujud dalam genggaman. Pancasila sebagai wujud dari pandangan. Bangsa yang besar dan berkebudayaan. Bangsa yang kuat karena persatuan. Bangsa yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesejahteraan.

Beberapa waktu yang lalu kita dilanda Pandemi Covid-19. Pandemi singkat yang memiliki dampak dalam segala lini kehidupan. Tidak hanya perekonomian dan kesehatan melainkan kehidupan sosial masyarakat dipertaruhkan. Berbagai informasi hoax bertebaran. Publik hampir dilanda krisis kepercayaan. Masyarakat terpecah dalam madzhab dan sisi-sisi pemikiran. 

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sejak masa pandemi per April 2020 tersebar 474 isu hoaks yang tersebar dalam ribuan platform digital.  Tercatat sebanyak 1.125 sebaran hoaks dalam berbagai platform digital, di antaranya pada platform Facebook sebanyak 785, Instagram 10, Twitter 324, dan Youtube 6 (m.detik.com). Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian serius. Mengingat bahaya besar yang diakibatkan dari beredarnya berita hoax tersebut.

Selain itu, sejak keberadaan pandemi, selain “shock culture” masyarakat juga terbagi dalam ruang dan sisi pemikiran. Penganut penganut aliran kesehatan meyakini bahwasannya Virus Corona atau Covid 19 benar keberadaannya dan harus ditangani melalui cara-cara kesehatan yang telah ditentukan.  Penganut aliran pemikiran kesehatan ini, pada kenyataannya adalah mereka yang mendukung segala upaya untuk menekan angka penyebaran, juga yang pada akhirnya mendukung adanya kebijakan karantina wilayah maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pada lain sisi, ada masyarakat yang mementingkan prioritas perekonomian harus didahulukan di atas segalanya. Penganut pemikiran ini juga sangat berlawanan dengan penganut aliran kesehatan. Aliran pemikiran ini juga yang kemudian mendukung adanya kebijakan “new normal”. Di lain pihak, banyak yang mempercayai juga adanya teori konspirasi Covid 19 yang sengaja dimunculkan untuk kepentingan tertentu. Akibatnya, banyak masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan, dan masih banyak aliran pemikiran lainnya.

Sebagai bangsa yang besar, bangsa pejuang yang telah melewati sejarah panjang dengan penuh rintangan. Seharusnya pandemi ini hanyalah bagian kecil dalam sebuah perjalanan. Hanya sedikit rintangan untuk membawa bangsa kita menuju makna baru kemerdekaan. Bergotong royong untuk menembus celah-celah keterbatasan. Menemukan suatu realitas baru menuju pengembangan untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan.

Dengan demikian pandemi adalah tahap kedua dari bangsa ini untuk berjuang. Memperoleh kembali makna kemerdekaan yang baru. Persatuan tidak hanya terwujud dalam hitungan jarak. Tetapi persatuan dapat terwujud dalam kesatuan ide, gagasan, juga tekad untuk mewujudkan kesejahteraan bagi sesama. 


Sumber:

Al Fitri, S.Ag, S.H., M.H.I., Kemerdekaan yang Sesungguhnya, www.arsip.pa-manna.go.id, diakses tanggal 17 Agustus 2020 pukul 08.30 WIB

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 5, 2016-2019, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Kadek Melda Lusiana, 2020, Masa Pandemi Corona, Kominfo Temukan 474 Isu Hoax di Facebook-Youtube, https://m.detik.com/news/berita/d-496936/masa-pandemi-corona-kominfo-temukan-474-isu-hoax-di-facebook-youtube, diakses tanggal 17Agustus 2020, Pukul 11.27 WIB

Naskah Lomba Pidato Emil Hakkim Aba, Pidato Pancasila BNPT, FKPT, 2020, https://youtu.be/pAZ9ugp1bz8, diakses tanggal 17 Agustus 2020, Pukul 13.05 WIB.

(L/LPM Bursa)


Comments

Popular posts from this blog

Tips Cara Mengatasi Error 5200 Printer Canon

Pada kesempatan kali ini saya akan share sedikit pengalaman saya tentang Printer Canon IP2770 , Banyak yang bertanya pada saya bagaimana sih cara mengatasi masalah Printer Canon Error 5200. Printer Canon pada masalah ini membutuhkan Reset Printer. Sebenarnya produsen Printer Canon sudah mengikutsertakan petunjuk penggunaan manual atau Helpdesknya. Disana menyatakan jika tinta sudah habis, maka Cartridge harus diganti dengan yang baru. Karena untuk menjaga kualitas hasil Print Out. Namun hampir semua orang dengan alasan ekonomis lebih memilih menyuntikan tinta ke Cartridge dari pada membeli Cartridge baru sesuai dengan petunjuk produsen Printer Canon, mengingat harganya tidak bisa dibilang murah. Tindakan suntik tinta biasanya berakibat printer menjadi Error, salah satunya adalah Error 5200. Error 5200 ini diakibatkan oleh perbedaan Inisialisasi Cartridge yang terpasang sebelum dilepas dari tempat Cartridge Printer Canon dan setelah dipasang kembali, hal ini membuat Printer t

Tradisi Begalan Banyumas

Salah satu Prosei Begalan Banyumas Jawa Tengah salah satu provinsi yang kaya budaya daerah. Diantaranya daerah Banyumas, dimana masyarakatnya mempunyai tradisi unik saat hari pernikahan. Dari tradisi yang ada, tradisi budaya di Banyumas meliputi, Begalan, Mitoni, Ngruwat, Tumpengan dan lain sebagainya. Salah satu budaya yang ada di Banyumas yaitu tradisi Begalan . Begalan meruapakan budaya adat warisan leluhur yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas. Begalan ini dilakukan pada acara pernikahan terutama pada pernikahan calon pengantin lelaki yang dalam silsilah keluarga menjadi anak sulung atau anak bungsu.  Di daerah Banyumas, tradisi Begalan ini menjadi bagian yang terpenting dalam prosesi pernikahan adat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Banyumas terhadap tradisi ini, seringkali pernikahan adat itu dinilai belum lengkap jika tradisi Begalan belum terlaksana. Tradisi Begalan Banyumas Didalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung d

Unsur Layak Berita

Setelah kemarin kita belajar tentang cara menulis berita sekarang saya akan membagikan mengenai tulisan yang layak disebut berita. karena tidak semua tulisan bisa disebut berita. ada beberapa unsur yang membuat tulisan tersebut layak disebut berita. menurut kode etik Jurnalistik Wartawan Indonesia pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya” . (Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, 2006:47) Dari ketentuan yang ditetapkan Kode Etik Jurnalistik itu menjadi jelas pada kita bahwa berita harus cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat. Selain itu berita juga harus lengkap, adil dan berimbang. Kemudian berita juga tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Berita itu juga harus