Skip to main content

Fakultas Syari’ah dan Hukum UNISNU Jepara Kupas Islam Nusantara

Prof. Yudian menyampaikan materi tentang Sejarah Islam Nusantara pada Seminar Nasional Fakultas Syari'ah & Hukum di lantai 3 Gedung Hijau UNISNU Jepara. Senin (4/4) .

LPM BURSA - UNISNU, Senin, (4/4) bertempat di Ruang Auditorium (lantai 3) Gedung Hijau UNISNU Jepara, Fakultas Syari’ah dan Hukum UNISNU Jepara mengadakan acara Seminar Nasional yang bertajuk Islam Nusantara. Acara yang dihadiri oleh masyarakat UNISNU Jepara, Perwakilan SMA Se-derajat dan Santri se-Jepara, pegawai pemerintahan ini membawa tema “Melacak Akar Ideologi dan Epistimologi Islam Nusantara Dalam Konteks Ke-Indonesia-An”.

Untuk menambah pengetahuan tentang Islam Nusantara pada seminar ini menggandeng dua  narasumbe. Yaitu  Prof.  Yudian (Guru Besar Filsafat Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Dr. Abdul Ghafur Maimun (Ketua STAI al-anwar Sarang Rembang dan juga merupakan pengasuh ponpes Al-Anwar Sarang Rembang). 

Acara ini dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum (Mayadina Rohmi Musfiroh) kemudia dilanjutkan sambutan dari rektor UNISNU Jepara yang diwakili oleh bapak Sa’dullah As Sa’idi. Kemudian acara dilanjutkan dengan Deklarasi LPKBH yang dibacakan oleh bapak Wahidullah. Acara ditutup dengan do’a oleh bapak Barowi. Kemudian acara inti atau isi dari seminar nasional islam nusantara yang dimoderatori oleh bapak Husni Arafat. 

Dalam penyampaian materi oleh Bapak Yudian. Beliau menceritakan sejarah perkembangan Islam dan makna filosofi dari Indonesia sehingga Indonesia ini bisa menjadi negara muslim terbesar di dunia. Beliau menuturkan “umat Islam di Indonesia merupakan umat Islam yang dapat memuat sejarah yang tidak bisa dibuat oleh umat lainnya. Yaitu meski Indonesia terjajah selama ratusan tahun namun umat Islam dapat mempertahankan aqidah Islam. Hal ini tentu merupakan prestasi yang luar biasa yang tidak dapat tertandingi oleh umat lainnya”. 

Selain itu beliau juga menambahkan “kemunduran umat Islam bukan dikarenakan TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat), tapi karena umat Islam tidak mendalami ilmu sains teknologi. Karena itulah umat Islam mengalami kemunduran. Hal itu dikarenakan karena buku-buku karya umat Islam karangan dari ilmuwan Muslim dibakar oleh umat Islam sendiri sehingga umat Islam tidak bisa memahami ilmu pengetahuan”. 

Pembicara kedua yang dibawakan oleh bapak Abdul  Ghafur  Maimun. Beliau menjelaskan tentang sejarah Islam Nusantara “Islam nusantara muncul ketika ada muktamar NU di Jombang. Disitulah islam nusantara muncul dan kemudian dibahas oleh para ulama NU”. Hal ini dikarenakan banyaknya media yang memberitakan tentang kerusuhan yang terjadi di Timur Tengah. Umat Islam di sana saling berperang dan saling membunuh orang sesama muslim. Hal ini dilatarbelakangi oleh sejarah masuknya Islam. Islam di Indonesia masuk dengan cara gradual dan pelan-pelan. Sehingga Islam bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dengan damai. Karena agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Artinya menjadi rahat bagi seluruh alam. 

Respon dari peserta seminar ini sangat baik. Hal itu ditunjukkan degan banyak peserta yang ingin bertanya. RS/Sri Pujiati

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Begalan Banyumas

Salah satu Prosei Begalan Banyumas Jawa Tengah salah satu provinsi yang kaya budaya daerah. Diantaranya daerah Banyumas, dimana masyarakatnya mempunyai tradisi unik saat hari pernikahan. Dari tradisi yang ada, tradisi budaya di Banyumas meliputi, Begalan, Mitoni, Ngruwat, Tumpengan dan lain sebagainya. Salah satu budaya yang ada di Banyumas yaitu tradisi Begalan . Begalan meruapakan budaya adat warisan leluhur yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas. Begalan ini dilakukan pada acara pernikahan terutama pada pernikahan calon pengantin lelaki yang dalam silsilah keluarga menjadi anak sulung atau anak bungsu.  Di daerah Banyumas, tradisi Begalan ini menjadi bagian yang terpenting dalam prosesi pernikahan adat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Banyumas terhadap tradisi ini, seringkali pernikahan adat itu dinilai belum lengkap jika tradisi Begalan belum terlaksana. Tradisi Begalan Banyumas Didalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung d

Tips Cara Mengatasi Error 5200 Printer Canon

Pada kesempatan kali ini saya akan share sedikit pengalaman saya tentang Printer Canon IP2770 , Banyak yang bertanya pada saya bagaimana sih cara mengatasi masalah Printer Canon Error 5200. Printer Canon pada masalah ini membutuhkan Reset Printer. Sebenarnya produsen Printer Canon sudah mengikutsertakan petunjuk penggunaan manual atau Helpdesknya. Disana menyatakan jika tinta sudah habis, maka Cartridge harus diganti dengan yang baru. Karena untuk menjaga kualitas hasil Print Out. Namun hampir semua orang dengan alasan ekonomis lebih memilih menyuntikan tinta ke Cartridge dari pada membeli Cartridge baru sesuai dengan petunjuk produsen Printer Canon, mengingat harganya tidak bisa dibilang murah. Tindakan suntik tinta biasanya berakibat printer menjadi Error, salah satunya adalah Error 5200. Error 5200 ini diakibatkan oleh perbedaan Inisialisasi Cartridge yang terpasang sebelum dilepas dari tempat Cartridge Printer Canon dan setelah dipasang kembali, hal ini membuat Printer t

Unsur Layak Berita

Setelah kemarin kita belajar tentang cara menulis berita sekarang saya akan membagikan mengenai tulisan yang layak disebut berita. karena tidak semua tulisan bisa disebut berita. ada beberapa unsur yang membuat tulisan tersebut layak disebut berita. menurut kode etik Jurnalistik Wartawan Indonesia pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya” . (Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, 2006:47) Dari ketentuan yang ditetapkan Kode Etik Jurnalistik itu menjadi jelas pada kita bahwa berita harus cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat. Selain itu berita juga harus lengkap, adil dan berimbang. Kemudian berita juga tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Berita itu juga harus