Skip to main content

Gelar S.Sy Disinyalir Diskriminatif


M. Maghfurir Rohman, S.Sy Disinyalir Diskriminatif
M. Maghfurir Rohman*

LPMBURSA.COM, Jepara - Ketika membicarakan sebuah gelar untuk para sarjana sungguhlah sangat penting, meskipun anggapan kita hanya sebuah nama (gelar). Karena sesungguhnya dibalik semua itu ada hal yang sangat krusial yakni tentang daya tawar (bargainig) untuk mampu bersaing di pasaran (dunia kerja-red).

Dalam konggres FORMASI (Forum Mahasiswa Syari’ah Indonesia) di gedung Youth Centre Sleman Yogyakarta pada tahun 2010 telah dibahas panjang lebar terkait dengan perubahan gelar para sarjana, khususnya bagi para sarjana Fakultas Syari’ah yang dahulu S.Ag kemudian menjadi S.Hi dan sekarang berubah lagi mejadi S.Sy. Tidak hanya di FORMASI saja yang telah membahas terkait perubahan gelar tersebut, bahkan FK-MASI (Forum Komunikasi Mahasiswa Al-Ahwalus Syahshiyyah Indonesia) yang diadakan di Audit Gedung III IAIN Walisongo Semarang pada awal tahun 2011 juga membahas hal yang serupa.

Sehubungan dengan keputusan perubahan gelar tersebut, Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI) yang dulu bernama Departemen Agama (DEPAG) menuai protes yang sangat luar biasa dari para mahasiswa Fakultas Syari’ah. Adanya perubahan tersebut dianggap akan berdampak buruk kepada para sarjana syari’ah terkait dengan bargainig. Ketidak setujuan tersebut tidak hanya diungkapkan oleh para mahasiswa, namun para dosen yang sepemikiran dengan para mahasiswa, juga tidak setuju terkait adanya perubahan tersebut, karena dinilai ada sebuah dikriminatif terhadap sarjana yang menyandang gelar tersebut dan pasti akan merugikan. Karena harus diketahui bersama bahwa lulusan Fakultas Syariah yang pada saat itu masih menyandang gelar S.Hi masih dianggap sebelah mata oleh beberapa kalangan jika dibandingkan dengan para sarjana hukum yang menyandang gelar S.H meskipun mempunyai kemampuan yang sama. Dan hari ini telah terjadi perubahan gelar menjadi S.Sy yang mana akan semakin memprihatinkan.

Sejak penuaian protes tersebut, sampai hari ini masih ada perbedaan pemberian gelar terhadap sarjana dimasing-masing perguruan tinggi, ada yang masih menggunakan gelar S.Hi dan juga ada yang sudah menggunakan gelar S.Sy, contoh saja Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang pada wisuda pada tahun 2011 masih menggunakan gelar S.Hi padahal SK (Surat Keputusan) KEMENAG RI yang sudah diturunkan ke masing – masing Perguruan Tinggi Islam baik Swasta maupun Negeri se-Indonesia pada awal 2010, namun berbeda dengan INISNU Jepara yang sudah menggunakan gelar S.Sy dengan berpijak SK yang sama. Namun yang menjadi pertanyaan sampai hari ini kenapa penggunaan gelar S.Sy belum merata?. Dengan keadaan yang demikian menggambarkan bahwa sampai hari ini belum ada ketegasan dari KEMENAG RI terkait dengan perubahan tersebut. Padahal perguruan tinggi islam baik negeri maupun swasta semua di bawah naungan kemenag dan seharusnya keputusan kemenag diikuti oleh PTAIS dan PTAIN Se-Indonesia.[Magfurir/LPMBURSA]

*M. MAGHFURIR ROHMAN

Wakil Presiden BEM INISNU Jepara
Periode 2011-2012

Comments

Popular posts from this blog

Tips Cara Mengatasi Error 5200 Printer Canon

Pada kesempatan kali ini saya akan share sedikit pengalaman saya tentang Printer Canon IP2770 , Banyak yang bertanya pada saya bagaimana sih cara mengatasi masalah Printer Canon Error 5200. Printer Canon pada masalah ini membutuhkan Reset Printer. Sebenarnya produsen Printer Canon sudah mengikutsertakan petunjuk penggunaan manual atau Helpdesknya. Disana menyatakan jika tinta sudah habis, maka Cartridge harus diganti dengan yang baru. Karena untuk menjaga kualitas hasil Print Out. Namun hampir semua orang dengan alasan ekonomis lebih memilih menyuntikan tinta ke Cartridge dari pada membeli Cartridge baru sesuai dengan petunjuk produsen Printer Canon, mengingat harganya tidak bisa dibilang murah. Tindakan suntik tinta biasanya berakibat printer menjadi Error, salah satunya adalah Error 5200. Error 5200 ini diakibatkan oleh perbedaan Inisialisasi Cartridge yang terpasang sebelum dilepas dari tempat Cartridge Printer Canon dan setelah dipasang kembali, hal ini membuat Printer t

Tradisi Begalan Banyumas

Salah satu Prosei Begalan Banyumas Jawa Tengah salah satu provinsi yang kaya budaya daerah. Diantaranya daerah Banyumas, dimana masyarakatnya mempunyai tradisi unik saat hari pernikahan. Dari tradisi yang ada, tradisi budaya di Banyumas meliputi, Begalan, Mitoni, Ngruwat, Tumpengan dan lain sebagainya. Salah satu budaya yang ada di Banyumas yaitu tradisi Begalan . Begalan meruapakan budaya adat warisan leluhur yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas. Begalan ini dilakukan pada acara pernikahan terutama pada pernikahan calon pengantin lelaki yang dalam silsilah keluarga menjadi anak sulung atau anak bungsu.  Di daerah Banyumas, tradisi Begalan ini menjadi bagian yang terpenting dalam prosesi pernikahan adat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Banyumas terhadap tradisi ini, seringkali pernikahan adat itu dinilai belum lengkap jika tradisi Begalan belum terlaksana. Tradisi Begalan Banyumas Didalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung d

Unsur Layak Berita

Setelah kemarin kita belajar tentang cara menulis berita sekarang saya akan membagikan mengenai tulisan yang layak disebut berita. karena tidak semua tulisan bisa disebut berita. ada beberapa unsur yang membuat tulisan tersebut layak disebut berita. menurut kode etik Jurnalistik Wartawan Indonesia pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya” . (Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, 2006:47) Dari ketentuan yang ditetapkan Kode Etik Jurnalistik itu menjadi jelas pada kita bahwa berita harus cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat. Selain itu berita juga harus lengkap, adil dan berimbang. Kemudian berita juga tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Berita itu juga harus