Skip to main content

Menolak Nikah Sirri; “wawancara di KUA kecamatan Tahunan Jepara”

keredaksian, majalah SHIMA, Kumpulan Majalah SHIMA, UNISNU
Redaksi Majalah SHIMA edisi 13
UNISNU-Lpmbursa, Pernikahan menurut umat Islam merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri berdasar akad nikah yang diatur dalam undang-undang. Dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia sesuai hukum Islam. Pernikahan adalah ikatan yang sangat kuat atau mitsaqon ghalidhan untuk mentaati perintah Allah. Melaksanakannya merupakan sebagai bentuk ibadah. Maka dari itu, demi menjaga kesucian lembaga perkawinan, pernikahan bagi umat Islam hanya sah dilakukan menurut hukum Islam dan keberadaannya dilindungi oleh hukum Negara.

Hukum positif di Indonesia, memandang bahwa pernikahan yang dilakukan umat Islam wajib dilangsungkan di hadapan dan di catat oleh Pejabat Pencatat Nikah. Jika pernikahan tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum, sesuai undang-undang yang berlaku.
Melihat kenyataannya tidak semua umat Islam Indonesia mematuhi peraturan tersebut. Sehingga masih banyak sekali kita jumpai pada masyarakat muslim melakukan pernikahan di bawah tangan dengan berbagai macam alasan. Disisi lain memang masih banyaknya masyarakat Islam Indonesia yang belum familiar terhadap hukum Undang-undang atau hukum positif. Mereka menyebutnya nikah sirri, nikah dibawah tangan, nikah diam-diam. Serta masih banyak lagi penyebutan lain yang sesuai dengan letak geografis masing-masing.

Pengertian
Perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis dengan melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh.
Secara literal Nikah Sirri berasal dari bahasa Arab “nikah” yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi). Kata “nikah” sering dipergunakan untuk arti persetubuhan, juga untuk arti akad nikah. Sedangkan kata Sirri berasal dari bahasa Arab “Sirr” yang berarti rahasia. Dengan demikian nikah sirri dapat diartikan sebagai pernikahan yang rahasia atau dirahasiakan. Karena prosesi pernikahan semacam ini sengaja disembunyikan dari publik dengan berbagai alasan, dan biasanya dihadiri hanya oleh keluarga dekat. Nikah ini juga tidak mengadakan pesta pernikahan dalam bentuk apapun termasuk walimatul ursy.
Menolak Nikah Sirri; “wawancara di KUA kecamatan Tahunan Jepara”, hukum nikah sirri, hukum nikah siri,nikah sirri
Bapak Sunzaidi ketua KUA kec Tahunan menjelaskan

Dari pengertian diatas terdapat beberapa praktik nikah sirri yang ada di masyarakat, lebih lanjut Bapak Sunzaidi ketua KUA kec Tahunan menjelaskan : Pertama, pernikahan seorang pria dengan wanita yang sudah cukup umur dan dicatat oleh pihak Pencatat Nikah. Akan tetapi saat pernikahan tidak mengundang atau tidak di umumkan kepada khalayak ramai. Biasanya kondisi ini terhalang oleh keadaan yang belum sempat untuk mengadakan pesta pernikahan. Sehingga mereka hanya mencari halalnya saja dan diketahui oleh pihak pencatat nikah.

Kedua, pernikahan antara seorang pria dan wanita yang masih dibawah umur atau masih sekolah. Hal ini biasanya kehendak orang tua untuk menjalin tali silaturahmi dengan menikahkan anaknya. Selang beberapa tahun hingga umur keduanya sudah mencukupi barulah dinikahkan kembali secara resmi di PPN. Dalam tradisi Jawa hal seperti ini disebut “munggah mantu”.
Ketiga, dimana pernikahan seorang pria dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki cukup umur secara undang-undang. Keduanya melakukan pernikahan dengan sengaja tanpa di catatkan di PPN dengan banyak alasan. Dengan banyaknya dalih yang dipakainy,  sehingga pernikahan dibawah tangan dilangsungkan begitu saja. Alasan lain, menghemat biaya dan sah secara agama sehingga tidak perlu dicatatkan. Namun, permasalahan yang paling banyak adalah poligami sulit mendapat ijin dari istri pertama. Sehingga timbul pernikahan dilaksanakan tanpa sepengetahuan istri dan pihak pencatat nikah.

Lebih lanjut, ketua KUA Tahunan menjelaskan bahwa poligami sulit ini menjadi salah satu sebab banyaknya pernikahan dibawah tangan atau yang dikenal nikah sirri. Karna poligami banyak alasan pelaku secara pribadi yaitu kuat segalanya, mulai dari fisik, nafsu seksual, hingga kekuasaan. Dan biasanya, pelaku nikah sirri adalah mereka orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Dengan adanya nikah sirri yang tidak memiliki kekuatan hukum dalam jangka panjang akan merusak martabat seorang wanita. Oleh karenanya, walaupun syarat dan rukun terpenuhi dapat dikatakan tidak sah karna salah satu pihak ada yang dirugikan. Karna tidak sesuai Undang-undang No 1 Tahun 1974  tentang Dasar Perkawinan yang berbunyi, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang mahaesa.

Dan dijelaskan pada pasal 2 ayat 1, perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu. Dilanjutkan pada ayat 2, tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dimana umat muslim dicatatkan di Kantor Urusan Agama, sedangkan umat lain dicatatkan di catatan Sipil.

Melihat undang-undang diatas, pernikahan diangap sah apabila sesuai hukum agama dan kepercayaan. Akan tetapi karna tinggal di Indonesia, diaturlah dengan mencatatkan pernikahan. Sebagai bentuk administrasi kepatuhan terhadap hukum Negara agar mendapatkan kekuatan hukum. Karna pencatatan amatlah penting, terutama untuk mendapatkan hak-hak pribadi seperti warisan dan nafkah.  S

Comments

Popular posts from this blog

Tradisi Begalan Banyumas

Salah satu Prosei Begalan Banyumas Jawa Tengah salah satu provinsi yang kaya budaya daerah. Diantaranya daerah Banyumas, dimana masyarakatnya mempunyai tradisi unik saat hari pernikahan. Dari tradisi yang ada, tradisi budaya di Banyumas meliputi, Begalan, Mitoni, Ngruwat, Tumpengan dan lain sebagainya. Salah satu budaya yang ada di Banyumas yaitu tradisi Begalan . Begalan meruapakan budaya adat warisan leluhur yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas. Begalan ini dilakukan pada acara pernikahan terutama pada pernikahan calon pengantin lelaki yang dalam silsilah keluarga menjadi anak sulung atau anak bungsu.  Di daerah Banyumas, tradisi Begalan ini menjadi bagian yang terpenting dalam prosesi pernikahan adat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Banyumas terhadap tradisi ini, seringkali pernikahan adat itu dinilai belum lengkap jika tradisi Begalan belum terlaksana. Tradisi Begalan Banyumas Didalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung d

Tips Cara Mengatasi Error 5200 Printer Canon

Pada kesempatan kali ini saya akan share sedikit pengalaman saya tentang Printer Canon IP2770 , Banyak yang bertanya pada saya bagaimana sih cara mengatasi masalah Printer Canon Error 5200. Printer Canon pada masalah ini membutuhkan Reset Printer. Sebenarnya produsen Printer Canon sudah mengikutsertakan petunjuk penggunaan manual atau Helpdesknya. Disana menyatakan jika tinta sudah habis, maka Cartridge harus diganti dengan yang baru. Karena untuk menjaga kualitas hasil Print Out. Namun hampir semua orang dengan alasan ekonomis lebih memilih menyuntikan tinta ke Cartridge dari pada membeli Cartridge baru sesuai dengan petunjuk produsen Printer Canon, mengingat harganya tidak bisa dibilang murah. Tindakan suntik tinta biasanya berakibat printer menjadi Error, salah satunya adalah Error 5200. Error 5200 ini diakibatkan oleh perbedaan Inisialisasi Cartridge yang terpasang sebelum dilepas dari tempat Cartridge Printer Canon dan setelah dipasang kembali, hal ini membuat Printer t

Unsur Layak Berita

Setelah kemarin kita belajar tentang cara menulis berita sekarang saya akan membagikan mengenai tulisan yang layak disebut berita. karena tidak semua tulisan bisa disebut berita. ada beberapa unsur yang membuat tulisan tersebut layak disebut berita. menurut kode etik Jurnalistik Wartawan Indonesia pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya” . (Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, 2006:47) Dari ketentuan yang ditetapkan Kode Etik Jurnalistik itu menjadi jelas pada kita bahwa berita harus cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat. Selain itu berita juga harus lengkap, adil dan berimbang. Kemudian berita juga tidak mencampuradukkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Berita itu juga harus